berita fundamental

Berita Fundamental

23 June 2020

Dollar Melemah Meski Jumlah Kasus Infeksi Virus Corona Meningkat

Dotar Amerika Serikat (AS) melemah dan mata uang berisiko, termasuk ausie melonjak kemarin karena pelaku pasar fokus pada prospek untuk pemulihan ekonomi akhirnya dari pandemi COVID-19. Mata uang berisiko diburu, bahkan ketika tanda-tanda untuk menahan virus corona mulai mengendur. WHO melaporkan rekor peningkatan dalam kasus infeksi virus corona global pada hari Minggu, dengan Amerika Utara dan Amerika Selatan menunjukkan kenaikan terbesar. Sementara itu, solidnya data ekonomi telah meningkatkan harapan ekonomi akan kembali bangkit dari penutupan aktivitas bisnis yang sebelumnya dilakukan untuk menahan penyebaran virus. Namun, investor tetap waspada akan adanya lockdown kembali. indeks dollar, melemah atas enam mata uang utama dunia lainnya menjadi 97,06.

Ausie Menguat Berkat RBA, Loonie Rebound

Mata uang berisiko rebound, dengan ausie menguat O,91X atas dollar. Sentimen positif ausie didapat setelah gubernur RBA Phillip Lowe mengatakan bahwa kenaikan ausie akhir-akhir ini bukan suatu masalah dan dampak pandemi tidak seburuk yang dikhawatirkan. Sementara itu, loonie naik karena pelaku pasar lebih fokus pada rebound ekonomi global daripada kekhawatiran mengenai gelombang kedua virus corona.

Safe Haven Masih Dukung Emas

Harga emas menguat 0,60x kemarin di kisaran $1755 karena masih tingginya minat beli safe haven atas instrumen tersebut. Harga emas naik, bahkan ketika Wall Street berhasil reli kemarin. Investor masih bertahan di aset safe haven karena kekhawatiran adanya gelombang kedua virus corona yang mungkin memicu penutupan kermbali aktivitas ekonomi. Data WHO menunjukkan bahwa kasus virus corona melonjak di beberapa negara dengan kasus paling mengkhawatirkan berada di Brasil.

Minyak Menguat Karena Ketatnya Pasokan

Harga minyak naik lebih dari 19 kemarin karena pengetatan pasokan dari produsen minyak dunia dan berkurangnya kekhawatiran lockdown. Meski demikian reli terbatas karena peningkatan kasus baru virus corona mungkin akan menghambat pemulihan permintaan bensin. Kenaikan minyak didoorong oleh turunnya jumlah rig minyak di Kanada dan AS. Harga minyak Brent naik 2.114 menjadi 543,08, sementara WTI naik 1,794 menjadi 540,46 per barel. Kedua kontrak minyak tersebut naik sekitar 9X minggu lalu, didorong deh pulihnya permintaan karena kekhwatiran lockdown mereda, serta aktifitas ekonomi kembali berjalan. Namun, melonjaknya kasus baru virus corona di AS membatasi kenaikan. Sementara itu, OPEC4 belum memutuskan apakah akan memperpanjang rekor pengurangan pasokan sebesar 9,7 juta bph menjadi bulan keernpat, sehingga akan berjalan hingga akhir Agustus. Di Sisi lain, Rusia mengatakan bahwa 540 hingga $50 per barel adalah harga yang wajar bagi minyak.

Sentimen Wall Street Bisa Angkat Bursa Asia

Saham-saham Asia bersiap menguat hari ini setelah harga minyak naik dan saham-saham teknologi berhasil mendongkrak Wall Street semalam. Meski demikian, investor masih khawatir akan adanya gelombang kedua penyebaran virus corona, yang bisa memiu kemungkinan ditutupnya kembali aktifitas bisnts. Saham-saham Australia menguat 0,584, sementara indeks Nikkei naik 1,348 dan Hang Seng menguat 0,802.

Fokus Hari Ini : PMI Jepang, Australia, dan Zona Euro

Australia, Jepang dan Eropa akan merilis data PMI. Meski ada perbaikan pada angka tersebut, PMI di negara- negara tersebut masih menunjukkan kontraksi, baik sektor jasa maupun manufaktur. Di Jerman, sektor manufaktur diperkirakan terkontraksi 41,5 di Juni, lebih baik dari bulan sebelumnya yang terkontraksi 36,6. Sementara di Inggris, PMI manufaktur diperkirakan kontraksi 45,2, sementara sektor jasa terkontraksi 39,1.

Sending
User Review
0 (0 votes)
Kategori Artikel:
Analisa · Fundamental

Sebuah komunitas trading forex yang mana setiap anggota member dapat saling berdiskusi dengan tujuan bertukar informasi terupdate tentang trading forex di Indonesia.

Leave a Reply