berita fundamental

Berita Fundamental

29 June 2020

Dollar Batasi Penurunan Berkat Safe Haven

Meski ada tanda-tanda perbaikan ekonomi, seperti yang ditunjukkan pada PMI di beberapa negara Eropa dan AS, investor tetap dibayangi kekhawatiran mengenai meningkatnya jumlah kasus baru virus corona, terutama di AS. PMI manufaktur dan sektor jasa di Inggris tumbuh di bulan Juni, sementara PMI manufacturing AS meningkat tajam dari 39,8 menjadi 49,6, rnasih di bawah 50, yang merupakan angka ekspansi. Sementara itu, memburuknya iklim geopolitik di dunia dengan meningkatnya kasus Covid-19 masih membebani pasar. AS mencatat rekor dalam jumlah kasus harian Covid-19 sebesar 39,818 pada hari Kamis. Kondisi ini mendorong investor kembali memburu dollar sebagai safe haven. Indeks dollar beshasil di tutup pada level 97,46 Jumat lalu, bangkit dari level terendah 1 minggu di 96,42, turun tipis 0,2X selama sepekan.

Euro Melemah Karena Kekhawatiran Tarif AS

Euro sempat naik tajam ke level 1.1347 minggu lalu menyusul data PMI zona euro yang melebihi angk ekspektasi. Namun, penguatan euro terkikis setelah rencana penerapan tarif dagang baru dari AS terhadap sekitar USD3.1 Miliar produk asal negara-negara anggota Uni Eropa. Euro juga tertekan setelah ECB meningkatkan program pembelian darurat pandemi (PEPP) sebesar EUR 600 muliar, menjadi 1,35 miliar.

Safe Haven Masih Dukung Emas

Harga emas naik dalam tiga minggu berturut-turut, mendekati target psikologi di $ 1.800, karena investor masuk ke safe haven di tengah lonjakan baru dalam kasus coronavirus di global. Beberapa analis mempekirakan bahwa logam mulia tersebut bisa mencapai level tertinggi 2011 sebelum akhir minggu depan, dan mungkin rekor tertinggi di atas $190D i bulan Juli nanti. Harga emas berjangka AS menguat 0,84 menjadi 1784,80 per ons. Selama sepekan, harga ernas Comex tersebut naik 1,796, setelah naik 0,9X dan 3,24 di dua minggu sebelumnya. Sementara emas spot naik 1,66.

Minyak Koreksi Karena Meningkatnya Jumlah Infeksi Virus Corona

Seminggu setelah reli, harga minyak WTI dan Brent kemudian terkoreksi minggu lalu karena meningkatnya kekhawatiran mengenai penyebaran gelombang kedua virus corona. Jumlah infeksi virus corona baru terus memukul Amerika Serikat pada akhir pekan, dengan rekor 44.782 kasus baru dilaporkan pada hari Sabtu, dua hari berturut-turut bahwa kasus baru telah meningkat di atas 40.000. Texas, negara bagian dengan jumlah kilang minyak terbesar, mencatat kasus rawat inap terkait virus yang lebih tinggi selama 16 hari berturut-turut, dengan 5.523 pasien saat ini sedang dirawat. Rawat inap telah meningkat dengan cepat sejak Memorial Day, ketika ada 1.511 pasien-19 di rumah sakit. Sementara itu, IMF mengatakan bahwa para produsen minyak, termasuk Arab Saudi dan Rusia akan memasuki resesi yang dalam tahun ini karena dampak pandemi coronavirus. Selama sepekan WTI anjlok 3,296 dan Brent turun 316.

Kekhawatiran Virus Corona Bayangi Saham Asia

Saham Asia tertekan di awal perdagangan minggu ini karena meningkatnya penyebarab virus coroa yang membuat investor ragu mengenai pemulihan ekonomi, mendorong mereka untuk kembali melirika safe haven, seperti dollar. Wall Street anjlok Jumat lalu karena beberapa negara bagian AS mulai mempertimbangkan dibukanya kembali ekonomi. Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang melemah 0,2x.

Fokus Minggu Ini : PMI China, Powell, NFP

Serangkaian data dan event kembali akan mewarnai pergerakan pasar minggu ini. Di awal minggu, investor mencermati pernyataan gubernur Bo Andrew Bailey. Kemudian data PMI China akan hadir setelahnya. Beberapa negara juga akan merilis data PDB, yaitu Kanada dan Inggris. Event, yang paling ditunggu pasar adalah testimoni ketua the Fed Jerome Powell, serta data ketenagakerjaan AS, termasuk non-farm payrall.

Kategori Artikel:
Analisa · Fundamental

Sebuah komunitas trading forex yang mana setiap anggota member dapat saling berdiskusi dengan tujuan bertukar informasi terupdate tentang trading forex di Indonesia.

Leave a Reply